Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Ada dua nikmat, dimana banyak manusia rugi di dalamnya, yaitu sehat dan waktu luang”. (HR. Al-Bukhari)
▬▬▬▬
Kata “Magbun” pada hadits di atas berasal dari kata “Gobnun”, artinya rugi dalam perdagangan. Jadi kehidupan manusia itu digambarkan sebagai perdagangan yang modalnya adalah waktu, yakni ketika sehat dan adanya waktu luang yang dimanfaatkan untuk taat kepada Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (QS. As-Shaff: 10-11)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
“Setiap manusia pergi di pagi hari (sebagai pedagang), ia adalah pedagang yang menjual dirinya, ada di antara mereka yang membebaskannya (dari api neraka), ada juga yang menghancurkannya”. (HR. Muslim)
Ath-Thibi berkata:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan bagi seorang mukallaf bagaikan seorang pedagang yang memiliki modal, tentunya dia mencari keuntungan dan tetapnya moadal. Caranya adalah dia berhati-hati dengan siapa dia bermuamalah, senantiasa jujur dan cerdas agar tidak rugi. Maka sehat dan waktu luang merupakan modal. Hendaklah dia bermuamalah kepada Allah dengan keimanan, melawan hawa nafsu dan musuh agama sehingga dia mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat”. (Fathul Bari, 19/219)
Walhasil, waktu yang kita miliki untuk taat kepada Allah adalah modal, terutama ketika kita sehat dan ada waktu luang. Jika kita tidak memanfaatkannya dalam ketaatan kepada Allah, maka kita adalah orang yang rugi, berkurang, dan bahkan modal yang kita miliki itu hilang.
Dan jika kita ingin mengukur untung/rugi kehidupan kita maka perhatikanlah, apa yang kita lakukan ketika sehat dan ketika adanya waktu luang, apakah itu ketaatan kepada Allah atau bahkan untuk maksiat kepada-Nya.
Faidah dari Al-Ustadz,
🔳 BENI SARBENI, Lc, M.Pd.
Hafidzhahullah